Jika kita menonton drama Korea, kita akan menemukan bahwa hampir semua orang di drama tersebut memakai smartphone Samsung. Tidak heran, karena brand Samsung memang berasal dari negara asal Lee Min Ho itu. Hal ini tentu berbeda dengan barang lokal yang berada di Indonesia.
Barang lokal terpinggirkan, dan brand-brand luar negeri menjadi primadona. Yang dicari bukan lagi kualitas, melainkan mereknya. Sebab terkadang yang dicari bukan fungsi, melainkan gengsi.
Pertanyaannya, Bisakah barang-barang lokal kita seperti Samsung yang menjadi kebanggaan orang Korea Selatan?. Sebenarnya saat ini banyak barang-barang lokal yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia, namun sudah beramai-ramai dipesan oleh orang dari mancanegara. Apa saja? Ayo, simak selengkapnya!.

 1. Schimiley Mo


Untuk urusan pakaian, mungkin kita akrab dengan merek dunia seperti Zara atau H&M. Tapi bagaimana dengan Schimiley Mo?. Padahal brand pakaian lokal dari UMKM pimpinan Diana Rikasari ini sudah pernah di Kuala Lumpur Fashion Weeks dan Pure London Olympia.
Seperti namanya, yang berarti tersenyum, Schimiley Mo didominasi dengan warna-warna pastel yang cerah dan ceria. Cocok dipakai oleh generasi muda. Tak hanya pakaian, Schimiley Mo juga memproduki berbagai aksesoris kaum urban pada umumnya seperti sepatu, tas dan lain sebagainya.

2. Buccheri


Tulisan Buccheri dengan warna merah mungkin sering kita temukan saat berkunjung ke mall. Nama yang kebarat-baratan membuat produk ini sering dikira barang impor.
Padahal nama Buccheri berasal dari gabungan nama sang pemilik, yaitu Ediansyah, dengan saudara-saudaranya, yaitu Budi dan Hery. Tahun 1991, Ediansyah merasa jenuh dengan produk-produk lokal yang dinilainya kurang berkualitas.
Sementara pamor sepatu luar negeri semakin meningkat. Karenanya, Ediansyah memulai sebuah usaha sepatu yang mengandalkan kualitas dan harga yang terjangkau. Meski belum go internasional, tak bisa dipungkiri bahwa Buccheri sudah mendapat tempat tersendiri di hati pelanggannya.

3. LEA


Banyak yang belum tahu bahwa merek jeans LEA adalah produksi Indonesia. Hal itu wajar karena memang iklan produk ini selalu dengan bule, alias kebarat-baratan. Ditambah lagi logonya bernuansa seperti bendera Amerika., sehingga tidak heran banyak yang mengira LEA adalah brand impor.
Aslinya, LEA adalah jeans produk Indonesia, yang sudah diproduksi sejak tahun 1972. Perusahaan yang dikelola turun temurun oleh keluarga Leo Sandjaya itu memang sengaja mempertahankan image Amerika, karena orang telanjut percaya bahwa produk denim terbaik berasal dari Amerika.
Hingga saat ini, LEA menjadi salah satu brand denim kelas atas. Menurut Leo, kunci dari kesuksesan LEA adalah good product dan rational pricing yang selalu ia terapkan.

4. Magno Radio


Mendengar kata radio, mungkin orang akan mengatakan ketinggalan zaman. Apalagi kalau radio konvensional, alias bukan radio yang disediakan oleh smartphone canggih zaman sekarang.
Namun di tengah gempuran teknologi dan modernitas, Magno Radio Kayu atau Magno Wooden Radio ternyata berhasil berjaya di kancah internasional. Radio ciptaan Bapak Singgih Susilo Kartono, lulusan fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini, bahkan sudah memiliki distributor sendiri di Jepang, Australia, dan banyak negara Eropa.
Magno Radio dibuat dari kayu pinus, mahoni, dan rosewood yang bagus dari segi resonansi. Uniknya lagi, Pak Singgih memberdayakan masyarakat sekitar untuk memproduksi Magno Radio. Tak hanya berbisnis, pria asal Temanggung ini juga membuka lapangan kerja untuk orang sekitarnya.

5. Gitar Radix


Berawal dari keinginan untuk mendapatkan gitar bagus dengan harga murah, Toein Bernadhie Radix memutuskan untuk membuat gitar sendiri. Ternyata gitar bikinannya sendiri itu sangat memuaskan dan memenuhi standar kualitas sehingga layak untuk dikomersilkan.
Meski belum seterkenal merek-merek internasional seperti Ibanez, Fender, atau Gibson, saat ini, brand Raix Guitar asal Tangerang itu sudah menjelajahi pasar Eropa dan bekerja sama dengan distributor Belanda.

Kesimpulan

Kelima produk tersebut hanyalah beberapa, banyak pengusaha lain yang sukses membawa produknya hingga luar negeri. Padahal mungkin awalnya hanya iseng atau sekadar hobi saja.
Kamu pun bisa mencoba. Apalagi saat ini banyak sekali dukungan baik dari pemerintah ataupun swasta untuk mengembangkan usaha. Salah satunya adalah BRI.
BRI menyadari bahwa perekonomian Indonesia sangat bergantung pada pengusaha kecil. Sayangnya, pengusaha kecil seringkali terhalang modal. Karenanya, melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 500 juta.
BRI memberi bantuan pinjaman modal kepada para pengusaha kecil untuk mengembangkan produknya dengan lebih layak. Ada dua jenis kredit yang disediakan, yaitu KUR Mikro dan KUR Ritel.
Kur Mikro diperuntukkan bagi mereka yang hanya butuh uang 20 juta ke bawah saja. Sementara Kur Ritel, diperuntukkan bagi yang membutuhkan dana 20 juta hingga maksimal 500 juta dan sudah memiliki usaha yang berjalan minimal selama 6 bulan.
Untuk mendapatkan Kur Mikro, nasabah harus memiliki sesuatu yang dapat dijaminkan dan dilengkapi oleh dokumen-dokumen lain seperti KTP dan KK. Sementara untuk mendapatkan Kur Ritel, salah satu syarat utamanya adalah memiliki Surat Izin Usaha Mikro atau Kecil yang diterbitkan oleh pemerintah daerah.
Dengan banyaknya bantuan yang ada, diharapkan akan meningkatkan iklim berbinis di kalangan anak muda Indonesia. Nah, untuk kamu yang tertarik mengembangkan bisnis sendiri, Emerhub bisa membantu mengurus dokumen-dokumennya. Cek selengkapnya di sini.
 
Butuh bantuan untuk mewujudkan perusahaanmu sendiri? Ayo hubungi kami via telepon atau whatsapp ke +62888-3637482 (EMERHUB), dan dapatkan tawaran menariknya secara langsung!
Kunjungi Juga: Startup di Bidang Ini Dibutuhkan Indonesia di Masa Depan
 

Siap untuk memiliki perusahaan di Indonesia?

Dengan mengisi form mudah, unggah dokumen yang dibutuhkan, dan dapatkan perusahaanmu berdiri dalam lima hari kerja.

Mulai Sekarang
App screenshot